Program Revitalisasi Sekolah Menengah Atas senilai satu miliar lebih di SMA Negeri 1 Gunung Agung, kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), provinsi Lampung diduga kuat syarat bermasalah.
Pasalnya bantuan pemerintah bersumber dana APBN tahun 2025 yang digelontorkan pemerintahan presiden Prabowo Subianto di SMA Negeri 1 Gunung Agung tersebut, disinyalir tidak sesuai Juknis (Petunjuk Teknis) dalam pelaksanaannya.
Berdasarkan hasil investigasi awak media dilapangan,
Pekerjaan
Rehabilitasi Ruang Kelas,
Pembangunan Ruang Kelas,
Pembangunan Ruang BK,
Pembangunan Ruang Osis dan
Pembangunan Ruang UKS.
di SMA Negeri 1 Gunung Agung Terindikasi Besi Kolong Cincinnya berjarak 19 - 21 cm, dimana Semestinya Kolong Cincin untuk Pembangunan tersebut berjarak 15 cm atau sesuai pedoman Juknis. Akan tetapi SMA Negeri 1 Gunung Agung tidak mempedomani ketetapan Petunjuk Teknis, yang mana tentunya berdampak terhadap kualitas dan Kuantitas Pembangunan kedepannya.
"Untuk kolong Cincin, jaraknya 19 - 21 cm". Kata pekerja bangunan yang belum bisa disebutkan namanya, Sembari mengukur jarak kolong Cincin dari bangunan satu ke bangunan lain disekolahan tersebut (Selasa 18/11/2025)
Kendati demikian, indikasi permasalahan Program Revitalisasi Sekolah Menengah Atas di SMAN 1 Gunung Agung bukan hanya itu saja. Kegiatan dimaksud juga diduga kuat tidak sepenuhnya dikerjakan oleh pihak sekolah, namun dikerjakan pihak lain (Pihak Ketiga).
"Kalau atasannya lumayan pak, Ratusan Juta. Saya kenal dengan orang Dinas, dari kawan. Untuk Tulang Bawang Barat ada empat titik, salah satunya SMAN 1 Gunung Agung". Ungkapnya pekerja rangka baja saat ditemui wartawan dilokasi kegiatan pembangunan sekolah, yang terindikasi mengaku bekerja bukan perintah kepala sekolah melainkan perintah oknum Dinas
Lebih lanjut, pengerjaan pembangunan SMA Negeri 1 Gunung Agung senilai 1 miliar lebih ini ditengarai tidak melibatkan pekerja lokal (Padat Karya), para pekerja diindikasi berasal dari luar kabupaten Tulang Bawang Barat, atau kabupaten Lampung Selatan. Bahkan dalam pelaksanaan pengerjaan bangunan sekolah tersebut, para buruh atau pekerja tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD)
Mirisnya, Kepala Sekolah SMAN 1 Gunung Agung dan Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) belum dapat dimintai informasi terkait beragam indikasi Permasalahan itu. Meski Keduanya Berkali - Kali dihubungi Awak Media lewat telepon seluler, Kepala Sekolah dan P2SP tersebut enggan meresponnya. Bahkan hingga berita ini dipublikasikan, pesan singkat WhatsApp pun tidak dibalas. Diduga kuat keduanya sengaja menghindar dari kejaran awak media mengenai persoalan tersebut. (Tono/ Tim)
Social Header